Oleh : Arif Nur M, Kontributor resmi moslemcharity.com rubrik Siroh


Menyongsong kedekatan zaman pada usia akhirnya, selayaknya kita semakin akrab dengan istilah "Baitul Maqdis". Kawasan dengan tiga unsur utama yang saling terkait (lokasi geografis/ tanah dan tempat, bangsa/penduduknya, dan visi manajemen dan pemerintahannya). Kawasan Suci yang Allah berkahi dan sebutkan dalam surat Al-Isra'. Bahkan di beberapa negara, Baitul Maqdis (Islamicjerusalem) dijadikan mata kuliah perguruan tinggi. Ya, saking unik sejarahnya, spesial penduduknya dan memuat cita masa depan dunia.

Dari sekian kejadian istimewa yang dialami para nabi di Baitul Maqdis, malam itu Nabi Muhammad SAW 'dihibur' Allah dengan Isra' Mi'raj. Peristiwa unik yang seakan menjadi jawaban atas doa dimasa-masa berat dan kritis umat Islam kala itu. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan kaum muslimin tengah mengalami berbagai cedera, tantangan, dan penindasan oleh bangsa mereka (kafir Quraisy) dan di kampung halaman mereka sendiri, yaitu Makkah. Kondisi ini semakin memburuk terutama sesudah meninggalnya pelindung dan pendukungnya yaitu pamannya Abu Thalib (bulan Rajab ditahun ke-10 kenabiannya atau 619 M) dan wafatnya sang istri tercinta Khadijah RA, pendukung moral dan finansialnya yang paling setia (bulan Ramadan ditahun yang sama), meninggalnya dua orang terpenting dan terdekat dalam hidup Nabi Muhammad SAW itu dikenal dengan Tahun Kesedihan seakan menambah derita umat Islam. Nabi Muhammad SAW pergi ke Thoif untuk meminta bantuan suku Tsaqif namun mereka malah menyuruh orang-orang tak waras dan budak-budak mereka untuk menghina dan melempari Nabi SAW dengan batu yang melukai kakinya hingga berdarah.

Pada detik-detik inilah beliau SAW berdoa, "Ya Allah kepadamu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan mudahnya orang-orang menghinaku. Wahai Yang Maha Pengasih diantara yang penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak engkau serahkan? Kepada orang yang jauh yang membelalakkan (mata penuh kebencian) kepadaku? Ataukah kepada musuh yang telah Engkau berikan kekuasaan atas diriku? Apabila Engkau tidak murka kepadaku semua itu tidak ku hiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu kepadaku atau kemurkaan yang hendak engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak mempersalahkan diriku hingga engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenan-Mu"

[Ibn Hisyam Al-Sira Al-Nabawiyya, Bagian Dua (Dar al-Rayan lil-Turath, Kairo, 1987), hlm. 68]


Tak ada satupun yang menyangka akan terjadinya 'kejutan' yang Allah akan suguhkan bernama Isra' Mi'raj itu. Perjalanan spiritual Nabi SAW dari Makkah ke Masjidil Aqsha lalu menjemput sholat ke langit ketujuh (Sidratul Muntaha). Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad nya, dari Ibnu Abbas Nabi Muhammad SAW bertemu seluruh Nabi lainnya di Baitul Maqdis, dimana Beliau SAW lalu memimpin mereka sholat tepatnya di Masjid Al-Aqsa, maka dapatlah dikatakan bahwa Nabi Muhammad bukan saja melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis dalam perjalanan malam itu tetapi juga telah diatur baginya untuk mengadakan sebuah pertemuan tingkat tinggi para Nabi di Baitul Maqdis. Tafsir terhadap riwayat ini bahwa Baitul Maqdis adalah TANAH HARAPAN bagi Rasulullah SAW. Demikian pula halnya bagi Nabi Ibrahim AS pada masa kekuasaan kaum Kan'aan, di kawasan tersebut Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk meninggalkan tanah airnya dan berhijrah ke Baitul Maqdis. Bangsanya sendiri telah menyiksanya dan berusaha membunuhnya (dikisahkan dalam surat Al-Anbiya' (21) : 69 - 71)

Bersambung....

Sumber : 

Buku Emas Baitul Maqdis Vol.1. Prof. Dr. Abd Al-Fattah El-Awaisi, dkk.