Oleh : Arif Nur M, Kontributor resmi moslemcharity.com rubrik Siroh.

"...Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami beri Barakah untuk sekalian manusia di seluruh dunia ( Lil'alamin, Al-Ardh allati Barakna fiha)". (QS. Al-Anbiya [21] : 69-71).


Ya, Keberkahan yang melingkupi seluruh dunia atau untuk semua orang atau untuk seluruh masa yang akan datang. Tanah Harapan tidaklah terbatas hanya untuk salah satu kelompok tertentu berdasarkan agama ras atau jenis kelamin tetapi terbuka bagi semua orang di seluruh dunia tanpa diskriminasi tanah Baitul Maqdis seharusnya menjadi tanah terbuka bagi siapapun yang mencari perlindungan dan ketentraman.

Berdasarkan dua peristiwa besar bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam maka Baitul Maqdis adalah lokasi dan sumber harapan serta kebahagiaan bagi kaum muslimin dahulu di Makkah dimana Nabi Muhammad menjalani pengalaman kenabian yang baru. Sejak  perjalanan Isra' Mi'raj itu, Baitul Maqdis memang sudah selalu menjadi lokasi dan sumber harapan bagi kaum muslimin. Tempat ini berkaitan erat dengan iman kaum muslimin dan hidup di dalam hati serta pikiran kaum muslimin. Baitul Maqdis juga telah menggerakkan jiwa, perasaan, dan emosi kaum muslimin untuk meletakkan hati mereka kepadanya dan menyebabkan mereka merindukannya selalu.

Misalnya, untuk jangka waktu yang panjang generasi para sahabat menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis saat melakukan sholat (berlangsung 16-17 bulan sesudah hijrah ke Madinah) hingga kemudian arah kiblat diganti Allah ke Ka'bah. Itu artinya, selama Rasulullah SAW hidup, rentang waktunya lebih lama menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis daripada ke Makkah.

Kaum muslimin kala itu berpikir bahwa perjalanan malam Nabi Muhammad SAW sebagai titik balik dan langkah pertama mengubah Baitul Maqdis (dari kondisinya ketika itu dibawah Kekuasaan Romawi) serta memandangnya sebagai sebuah fath (kemenangan atau pembebasan) rohani kawasan itu. Hal ini tidak hanya memberikan harapan yang besar kepada Nabi Muhammad SAW tetapi juga kepada kaum muslimin yang ketika itu tertindas di Makkah. Bahkan bukan sekadar harapan sementara yang datang tepat saat dibutuhkan, namun harapan yang langgeng, serta sebuah sumber dan langkah menuju perubahan -- yang memperluas harapan itu sehingga mencakup juga perluasan dan pertumbuhan lokasi geografis mereka--. 

Dan dari peristiwa Isra' Mi'raj itu, untuk pertama kalinya umat Islam diperlihatkan unsur-unsur Internasional dari risalah baru yang mereka imani itu (Islam), mengingat bahwa risalah iman bukanlah urusan internal melainkan global. Umat Islam juga menjadi semakin yakin bahwa meskipun saat itu mereka menderita, Islam tidak akan terbatasi hanya untuk Makkah atau semenanjung Arab saja tetapi mencapai Baitul Maqdis dan meluas ke tingkat global.


Awal Perubahan: Langkah-langkah Strategis di Masa Nabi Muhammad SAW

Nabi SAW menyampaikan kabar gembira, salah satunya memberitahu Syaddad bin Aus (yang kemudian meninggal dan dimakamkan di pemakaman Ar-Rahmah di Baitul Maqdis pada 58 H/ 677-678 M), "Negeri Syam akan dibebaskan, dan Baitul Maqdis akan dibebaskan dimana kau dan anakmu akan menjadi imam di sana,  insya Allah".

Belakangan selama Ghozwah Tabuk pada 9 H/ 630 M, Nabi Muhammad SAW terus menyampaikan pesan yang sama kepada para sahabatnya. Nabi SAW juga menyampaikan kepada 'Afw bin Malik (wafat 73 H), "Hitunglah 6 hal, 'Afw.. antara sekarang hingga hari kiamat. Yang pertama adalah kematianku.... dan yang kedua adalah pembebasan Baitul Maqdis."

Selain itu, Beliau SAW berpesan untuk mewakafkan sebagian Baitul Maqdis kepada sahabat Tamim Bin Aus ad-Dari. Tamim adalah penduduk Baitul Maqdis yang pertama kali memeluk Islam (pada kemudian hari, Tamim Ad-Dari meninggal dunia dan dimakamkan diutara Bayt Jibrin dekat Hebron di Baitul Maqdis).

Yang kemudian memang terjadi adalah sesudah pembebasan Baitul Maqdis yang pertama (masa Khalifah Umar bin Khattab), para khalifah dari generasi ke generasi mendukung, mengakui, dan melaksanakan wakaf tersebut. Para ulama seperti Imam Abu Hamid Al Ghazali menyatakan, "Siapa saja yang menentang dan menggugat wakaf ini adalah kafir".

Pada tahun 616 M, setelah turun surat Ar-Rum [30] : 2-4, Nabi SAW mengutus Dahiya bin Khalifa al-kalbi al-Khazraji untuk mendatangi Heraklius di Aelia (nama Baitul Maqdis ketika itu) dan menyampaikan surat yang berisi ajakan kepada Islam. 

Selanjutnya usaha beliau SAW menaklukkan wilayah-wilayah dan terus menyebarkan Islam ke penjuru dunia, menjadi bukti betapa cinta Beliau SAW kepada seganap manusia..

Bukan main memang cita-cita besar Nabi Muhammad SAW untuk umatnya. Satu lagi alasan untuk kita tak boleh lupa senantisa menyanjungnya "Allohumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aaliy Muhammad..".

Bersambung.....


Sumber : 

Buku Emas Baitul Maqdis, Prof. Dr. Adb al-Fattah El-Awaisi Vol.

1, dkk.