Oleh : Pendamba Surga

Berbagai bencana diperlihatkan kepada kita semua. Di depan mata kita, dengan air mata yang bercucuran. Melihat saudara-saudara sebangsa dan setanah air menanggung kesedihan. Belum selesai penanganan satu bencana, menyusul bencana lainnya. 

Hal ini tentu membuat daya kerja pemerintah dan relawan harus ditingkatkan. Korban yang tak sedikit menambah pilu kita semua. Kedukaan keluarga bertambah seiring dengan hilangnya anggota keluarga mereka.

Apakah ini perkara ringan? tidak...!!! Di awal tahun 2021 ini justru Allah menyapa kita dengan peringatan-Nya. Ya, ini peringatan dari Allah untuk kita semua. Tak serta merta bencana alam yang meluluh lantakkan kota, tapi juga lantaran kebanyakan orang yang tak bersyukur dengan karunia-Nya. Kita pun banyak yang lalai dari kewajiban-Nya.


image source: merdeka.com


Indonesia adalah negara kepulauan yang Allah beri kekayaan membentang dari Sabang sampai Merauke. Tambang, lautan, emas, hutan, dan ragam kekayaan lainnya. Tapi, keserakahan dari segelintir orang di negeri ini justru mengundang duka dan nestapa yang berkepanjangan. 

Akibat ketamakan manusia, sumber kekayaan yang harusnya dapat dimanfaatkan dengan baik justru tak bisa dinikmati oleh anak negeri. Tak heran jika  bangsa luar pun tergiur untuk menikmatinya. Dengan berbagai cara, asal mereka dapat untung dengan membawa segepok uang dari hasil penjarahan kekayaan bangsa Indonesia. 

Harusnya anak negeri bisa menikmati. Tapi lagi-lagi, perut yang tamak membabat habis harapan masa depan. Akibatnya, bencana tak terelakkan lagi. Anak bangsa menjadi korban ketamakan oleh mereka yang haus kedudukan dan jabatan. 

Bukankah Allah sudah ingatkan kita semua? Di dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rum : 41. 

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Allah sudah kabarkan di dalam Al-Qur'an yang mulia. Kita pun sudah berulang kali membaca dan menghatamkan. Tapi mungkin kita hanya membaca dan melewatinya saja, tanpa jeda sejenak untuk memahami maksud sapaan Allah. 

Ya Rabb...

Engkau murka bukan karena Engkau marah terhadap kami. Tapi justru kami yang mengundang amarahmu karena ketamakan kami dan keserakahan kami untuk memuaskan nafsu dunia kami. Bukan karena nikmat-Mu yang sedikit, tapi syukur kita yang kurang banyak. 

The End

Salam ta'zhim, dari Al-Faqir Ilaa Rabbihi, Sayyaf Abu Zanki.