Bahtera itu harus terus berlayar. Seorang Nahkoda harus paham betul kemana arah kapal itu ia kemudikan. Karena ada banyak penumpang yang turut serta dalam rombongan. 

Tugas Nahkoda hanya satu, memastikan semua penumpang selamat sampai tujuan akhir. Dermaga tempat yang mereka tuju, berada di bawah kendali Nahkoda.



Meski dalam perjalanannya, desiran ombak tak jarang menghantam kapal, tapi kekuatan do'a dan sandaran hati harus dimiliki oleh Nahkoda dan seluruh penumpang demi keselamatan semua.

Tak jarang memang, karena beratnya beban yang ia bawa dan besarnya arus ombak yang menerpa, Nahkoda pun menyerah di tengah birunya samudera. Nasib para penumpang terombang-ambing. Padahal, dermaga surga masih jauh jaraknya. 

Rumah tangga, Ibarat kapal yang mengarungi samudera yang sangat luas. Berbagai peristiwa akan menghadang perjalanannya. Adakalanya terasa indah bagi penumpangnya. Ada angin semilir sepoi-sepoi yang sejuk dan menyenangkan. Deburan ombak - ombak kecil berkejaran terasa indah dalam pandangan. Tetapi, kadangkala juga harus menghadapi angin kencang dan badai yang menghempas bahkan menenggelamkan kapal dan seluruh isinya. Itulah gambaran kehidupan kita dalam berumah tangga, senang dan susah menjadi menu perjalanannya.

Kepada para Nahkoda kapal, bangkitlah, kemudikan bahtera Anda. Pastikan bahtera yang berlayar tetap berada di jalur yang benar. Meski berada di tengah birunya samudera dan derasnya ombak yang menerjang, itu bagian dari ujian. Jangan gentar menghadapi persoalan di tengah lautan. Sandarkan segala keselamatan hanya kepada Allah, Sang Pemilik luasnya samudera. Jangan biarkan kapal Anda karam di tengah lautan.

Kepada para penumpang, kuatkan Nahkoda Anda dengan do'a. Bersamalah dengannya meski dalam suka maupun duka. Kapal Nabi Nuh tak bisa menyelamatkan penumpangnya. Istrinya dan Kan'an tenggelam. Bukan karena tak mampu berenang, tapi karena mereka melepaskan diri dari arahan Nahkoda kapal, Nuh 'Alaihissalam.

Wallahu a'lam.

by: Sayyaf Abu Zanki