Sekularisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.

Menurut Ensiklopedi Britania; “Sekularisme adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan dari kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi kepada dunia. Gerakan ini dilancarkan karena pada abad-abad pertengahan, orang sengat cenderung kepada Allah dan hari akhirat dan menjauhi dunia. Sekularisme tampil untuk menghadapinya dan untuk mengusung kecendrungan manusia yang pada abad kebangkitan, orang menampakkan ketergantungan yang besar terhadap aktualisasi kebudayaan dan kemanusiaan dan kemungkinan terealisasinya ambisi mereka terhadap dunia.”

“Lalu orientasi kepada sekularisme yang merupakan gerakan perlawan terhadap agama dan ajaran Masehi terus berlanjut di celah-celah sejarah modern seluruhnya.“

            Sedangkan Menurut Kamus Oxford; “Sekularisme bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhanian, seperti pendidikan sekular, seni atau musik sekular, pemerintahan sekular, pemerintahan yang bertentangan dengan gereja.

Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, mengantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama.

            Jadi, sekularisme merupakan sebuah sistem yang menyetting terpisahnya antara agama dengan kehidupan publik. Sebuah dikotomi atau pemisahan yang sangat tidak relevan dengan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatRadhiyallahu ‘anhum.

Sekularisme Dalam Kilas Sejarah

            Pada abad pertengahan, Barat berada pada kungkungan Paus dan Uskup. Gereja memiliki pengaruh besar dalam kepengaturan Negara. Dan doktrin-doktrin mereka harus ditaati semua pengikutnya. Padahal, doktrin gereja bukan lagi mengikuti wahyu melainkan mengikuti kemauan para Paus. Disebutkan dalam kitab Ma’alim Tarikh al-‘Unshur al-Wustha, bahwa Paus Gregorius VII mengumumkan pada tahun 1085 M bahwa gereja merupakan pemilik kepemimpinan di seluruh muka bumi. Mereka mendapat langsung otoritas dari Allah dan mereka memberi otoritas kepada para raja-raja dan pemimpin-pemimpin di bumi bahwa Paus memiliki kedudukan tertinggi di atas muka bumi (Aktifis Islam Menghadapi Tantangan Global : 130).

            Akhirnya banyak korban berjatuhan. Para ilmuwan yang pemikirannya tidak sejalan dengan gereja dipenjara, dibunuh, bahkan dibakar hidup-hidup. Raja pun harus tunduk kepada Paus. Martin Luther, pemimpin gerakan protes terhadap dominasi gereja Katholik atas kehidupan manusia, yang kemudian dikenal beraliran Kristen Protestan. Ia mengatakan bahwa Paus seharusnya tidak berhak mengatur kekaisaran tetapi kembali kepada urusannya untuk beribadah, sedangkan Negara adalah urusan kaisar.

Sekularisme, Akar dari Cinta Dunia

            Akibat dari semua ini adalah munculnya sikap cinta dunia secara berlebih dan tidak menghiraukan agama sebagai pengendali hidup. Mereka hanya mencari kebahagiaan dunia. Konsep kebahagiaan dunia inilah yang menggiring mereka untuk melakukan lompatan-lompatan dalam menikmati keuntungan dunia. Kekhawatiran selalu menyelimuti mereka. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan sedikit pun dalam usahanya mencari nikmat dunia. Sedikit mereka berpaling, hilanglah kesempatan yang mereka dambakan. Hal ini paralel dengan pepatah yang mereka kenal “Nikmatilah bunga tersebut sepuas-puasnya hari ini, karena besok pagi bunga ini akan layu”. Pandangan hidup semacam ini disinyalir Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya :

Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. (QS. Al-An’am: 29)

Hedonis Gaya Hidup Sekulerisme

            Di antara ciri khusus “millah” sekulerisme adalah gaya hidup mewah nan hedonis. Gaya hidup yang memang dinikmati oleh kebanyakan orang berkelas. Mereka menjadikan kemewahan sebagai kendaraan untuk meningkatkan derajat dan prestise. Keningratan telah menutup mata hatinya dari kehidupan akhirat. Sekulerisme memang menjadi aturan hidup mereka. Seolah tak mau diatur oleh agama, mereka menjadikan hal ini sebagai neraca dalam meningkatkan martabatnya. Mereka paham, jika hidup berdampingan dengan aturan agama pasti mereka akan diatur pula dalam harta dan cara hidupnya, yang akhirnya akan membuat mereka tidak bebas dalam menghambur-hamburkan kekayaan.

Hedonisme merupakan tabir jurang paling tepi dari tahapan kehancuran jalan hidup materialisme. Kota Pompei dan penduduknya yang dikubur Allah Ta’ala lengkap dengan ekspresi mereka tatkala adzab datang dengan tiba-tiba, merupakan monumen peringatan bagi penempuh jalan ini jika mau mengambil pelajaran. Penduduk Pompei yang tak mengindahkan aturan agama ternyata harus merasakan akhir yang tragis. Sebuah kota yang menjadi simbol kemerosotan dari kekaisaran Romawi yang terlibat dalam penyimpangan seksual sebagaimana kaum Luth.


Akhir “Hidup” Sekularisme.

Setelah melalui kajian yang panjang, terbukti, sekulerisme telah menjadi racun yang mematikan bagi umat manusia. Dekadensi moral yang terjadi merupakan produk ajaran sekulerisme yang memisahkan antara agama dan publik. Manakala masyarakat telah dijauhkan dari keyakinannya, maka mereka akan mudah goyah lantaran hilangnya pancaran keimanan yang menjadi penopang ruhiyahnya. Sekularisme yang seringkali dikaitkan dengan Era Pencerahan di Eropa, dan memainkan peranan utama dalam peradaban barat justru menjadi momok tersendiri bagi mayoritas Negara barat. Sekularisme hanyalah sebuah sistem kotor yang memandang dunia adalah segalanya. Hingga akhirnya sistem ini hanya mampu melahirkan generasi buta agama yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah. Wallahu a’lam bish shawab.

by: Sayyaf