Mahabbah (cinta) adalah luapan dan gejolak hati
ketika dirundung kerinduan untuk bertemu dengan orang yang dicintainya.[1]
Orang yang tergerak hatinya dengan cinta akan senantiasa memberikan persembahan
yang indah nan agung terhadap obyek yang dicintainya.
Bagi orang-orang beriman…, cintanya hanya akan
dipersembahkan kepada Dzat yang Maha Tinggi yakni Allah Rabbul ‘Alamin, cinta
yang tidak akan tebagi dengan sesuatu apapun, kapan pun, dan dimana pun.
Cinta memang naluri fithrah yang dimiliki oleh
setiap insan manusia di belahan dunia manapun. Bagi orang yang mengerti hakekat
cinta, dia akan menemukan labuhan cinta yang hakiki yakni cinta kepada Dzat
penggenggam alam semesta. Karena Dialah sang pemilik cinta yang pantas dicintai
oleh para pecinta sejati.
Saudaraku….
Cinta memang harus dibuktikan. Cinta bukan hanya sekadar
kata-kata manis di bibir, namun cinta merupakan luapan rasa yang membutuhkan
pengorbanan terhadap apa yang dicintainya. Seseorang yang mencintai Allah, dia
akan menempatkan tangga cinta ini di urutan yang pertama. Mengalahkan
segalanya, termasuk kepada, orangtua, anak, dan istrinya. Inilah yang mestinya dilakukan
hamba-hambanya yang shalih.
Ya…., Allah is number one. Tidak sulit bagi para
pecinta sejati untuk melakukan apapun yang Allah perintahkan. Dia yakin,
perintah-Nya selalu positif dan mengandung kebaikan. Allah tahu apa yang kita
butuhkan. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita.
Hanya saja, terkadang manusia banyak menuntut apa yang ia
inginkan. Menginginkan segala yang ada menjadi miliknya secara utuh tanpa
terkurangi sedikit pun. Seolah dunia telah jatuh dipelukannya. Dia lupa, apa
yang ada di dunia ini akan sirna. Dunia yang hina ini telah menjauhkannya
dengan sang pencipta. Namun, kematian yang jelas berada di pelupuk mata justru
ia lupakan sejauh mungkin.
Allah, sang raja pemilik semesta alam menjadi peringkat
ke sekian kalinya pasca dunia membalut lembut di hatinya. Cinta yang seharusnya
ia berikan kepada Allah, justru menikung tajam ke arah lain yang tidak sejalan
dengan rel kebenaran.
Saudaraku...
Jika kita mau melihat kadar cinta kita di hadapan Allah,
maka lihatlah seberapa banyakkah ibadah yang telah kita persembahkan kepada
kekasih tercinta. Ibarat sepotong roti, berapakah bagian yang kita berikan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bagi para pemuja cinta sejati,
tentunya potongan roti terbesar menjadi sebaik-baik persembahan yang ia berikan
kepada Rabbul ‘Izzati.
Sebagaimana generasi terbaik dari kalangan
shahabat. Mereka telah menuliskan bukti cinta mereka dengan sebenar-benar cinta
yang akan terus terkenang dan diikuti generasi sesudahnya. Ini merupakan bentuk
loyalitas sempurna para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Lalu, adakah diri
kita telah melakukan hal yang sama?
[1] Mukhtashar
Raudhatul Muhibbin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hlm. 23

0 Komentar