Perjalanan dalam proses menapaki
tangga perjuangan selalu diiringi dengan dinamika dan romantika yang selalu
mewarnainya. Perjuangan yang telah dirintis oleh para nabi dan rasul ini telah
melahirkan banyak laki-laki tangguh yang tampil sebagai juara. Mereka yang
tulus dalam menapaki tangga ini akan muncul sebagai generasi kokoh, layaknya
benteng yang tak mudah diterjang musuh. Sebaliknya, mereka yang tidak tulus dalam
menapaki tangga ini perlahan akan mundur secara teratur yang selanjutnya akan
muncul sebagai generasi pecundang yang secara otomatis akan terhempas dari
jalan juang yang penuh berkah ini.
Tak sedikit dari generasi ini yang
memilih mundur karena beratnya ujian yang dihadapi. Ujian yang datang
betubi-tubi, silih berganti, menjadi salah satu sebab runtuhnya semangat juang
yang sudah dibangun sekian lamanya. Inilah di antara makna seleksi alam, sistem
otomatis yang akan memisahkan dengan sendirinya siapa yang benar-benar jujur
dalam mangarungi lautan juang dan siapa yang hanya setengah hati memberikan secuil pengorbanannya untuk
din ini. Karena sesungguhnya jalan juang yang hari ini dihuni oleh sebagian
kecil manusia adalah jalan yang penuh dengan ombak yang siap menggulung dan
menenggelamkan siapa pun dari jalan juang ini.
Lantas yang menjadi pertanyaan besar
adalah, mengapa banyak para penyeru tauhid yang terhempas, berpindah haluan ke
barisan musuh? Padahal sebelumnya mereka berada di bagian front dalam memerangi
musuh?
Ya Allah... kami sangat sadar bahwa
jalan yang kami tempuh bukanlah jalan lurus lagi mulus yang siapa pun dapat
berjalan tanpa halangan. Kami sadar jalan ini bukanlah jalan yang sedang
diambil oleh kebanyakan orang yang ada di sekitar kami. Dan kami sangat sadar
bahwa jalan ini bukanlah jalan pintas yang dengannya setiap orang akan mudah
memasuki jannah-Mu. Tetapi kami yakin, jalan ini adalah jalan yang penuh duri,
penuh ujian yang tidak setiap orang bisa memasukinya. Hanya orang-orang yang
engkau rahmatilah yang mampu untuk terus berjalan di atasnya.
Hanya orang-orang yang berimanlah
yang pantas menjadi pemenang. Mereka pantas keluar jadi seorang juara sejati
dan menduduki tampuk kepemimpinan. Merekalah yang pantas mengatakan kepada
dunia, “Kamilah tentara Allah... kamilah yang akan mengatur dunia ini dengan
syari’at-Nya”.
Ya... inilah jalan kami. Jalan yang
tidak bisa dilewati oleh orang-orang yang terhempas dari jalan juang walau
hanya sejengkal. Mereka yang telah menarik diri akan keluar sebagai seorang pecundang
yang penuh dengan kehinaan. Mereka adalah serpihan tubuh yang sudah tak layak
untuk bersatu dalam manhaj juang ini. Mengingat mereka telah merelakan diri
untuk bergabung dengan musuh dalam memerangi umat Islam yang sangat pantas
untuk keluar dari gelanggang dakwah ini sebagai pemenang.
Ya Rabb... Engkaulah Dzat yang
membolak-balikkan hati. Tsabatkanlah hati kami di atas jalan ini, jalan yang
telah meluluskan ribuan laki-laki tangguh, jalan yang masih terlihat jelas
jejak langkah para nabi dan rasul, jalan yang menjadi pintu untuk masuk ke
jannah-Mu.
Kami yakin dengan sebenar-benar
keyakinan yang kami yakini, bahwa tangga juang ini memerlukan tumpuan yang
kokoh agar selalu berdiri tegak. Tangga juang ini memerlukan punggung yang kuat
untuk memikulnya. Maka anugerahkanlah kepada kami keimanan yang kuat dalam rangka menjaga hati
agar senantiasa istiqamah di jalan dakwah ini. Amin.
* Sayyaf
bin Wahid Hasyim bin Musthofa Al-Faqih Al-Muchson bin Burhan bin Abu Hasan

0 Komentar