Islam datang sebagai agama rahmatan lil ‘alamin,
agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam hadir
dengan sejuta pesona bagi masyarakat jahiliyah terdahulu. Segala bentuk perangai
jahiliyah benar-benar terhapus pasca kedatangan Islam di tengah-tengah mereka.
Seakan-akan tak pernah terjadi pada masa sebelumnya. Luar biasa..! Di antara perangai
jahiliyah yang terhapus adalah kedudukan wanita yang mendapat tempat begitu
agung daripada sebelumnya. Namun ironisnya, setelah tersebarnya Islam di
berbagai wilayah, barat justru datang sebagai peradaban durjana yang
mendiskreditkan eksistensi kaum wanita dari agung menjadi obyek yang tertindas.
Sejarah
telah membuktikan, peradaban Yunani, Romawi, Persia, Yahudi, Hinduisme, Arab
pra-Islam, Eropa, Nashrani, dan lain sebagainya, telah memperlakukan wanita
bagai barang komoditi yang siap dinikmati pembelinya. Siapa sangka, ternyata
perjuangan nabi dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum untuk
mengeluarkan manusia dari zaman jahiliyah harus
dibayar “murah” oleh peradaban nista macam di atas.
Wanita dan Dinasti Jahiliyah
Sejarah
merupakan satu uraian masa lampau yang dapat diambil ibrahnya oleh
generasi berikutnya. Siapa pun yang telah mengambil sejarah menjadi bagian dari
hidupnya, maka berarti ia telah merancang sebuah kesuksesan pada dirinya. Hal
ini sebagaimana yang diungkapkan Imam Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu,
beliau mengatakan, “ Umat ini tidak akan pernah jaya kecuali dengan mengikuti
apa yang menyebabkan umat terdahulu jaya”. Maknanya, mempelajari sejarah
merupakan salah satu kunci sukses untuk menuju kejayaan Islam. Maka, kita harus
paham bahwa sejarah bukanlah masa lalu saja, namun sejarah adalah hari ini,
esok, dan hari akan datang. Sehingga
kita dapat memahami bahwa sejarah bukanlah sebuah berita yang telah lalu, namun sejarah merupakan peristiwa
yang akan senantiasa berlanjut dan terulang hingga akhir zaman.
Kembali
pada persoalan awal bahwa wanita memang dijadikan obyek yang tertindas pada
masa dinasti jahiliyah. Wanita sedikit pun tidak mempunyai ruang keadilan untuk
menuntut haknya. Mereka hanya dijadikan sebagai alat pemuas untuk melayani “nafsu
binatang” para penguasa jahiliyah. Keterbelakangan kondisi wanita pada zaman
jahiliyah ini memang tidak lepas dari dukungan teori-teori dari kalangan
filosof. Di antaranya adalah Aristoteles, seorang filosof Yunani yang
menyatakan “alam tidak membekali perempuan dengan intelektual”. Di pihak
lain, Socrates, yang juga “millatan wahidah” dengan Aristoteles,
mengatakan, “Perempuan adalah sumber utama kekacauan dan perpecahan dunia”.
Lihatlah, betapa buruknya stigma negatif yang dialamatkan pada
para wanita di zaman jahiliyah. Mereka sungguh tertindas dan teraniaya.
Wanita Dalam Kilas Sejarah
Telah
dikemukakan di awal, bahwa posisi wanita di zaman jahiliyah sungguh
teramat mengenaskan. Sebagai gambaran kita bisa melihat, bagaimana perlakuan
beberapa negara terhadap wanita di era jahiliyah. Di masa Yunani kuno, wanita
diperjual belikan di pasar layaknya barang dagangan. Kemuliaan dan
kehormatannya tidak ternilai sedikit pun pada zaman ini. Bahkan meskipun
peradaban Yunani kuno telah maju, kultur seperti ini masih terus berlanjut dan
terpelihara. Di masa Romawi dan Mesir kuno juga tidak lebih baik dari
masyarakat Yunani kuno. Dalam masyarakat Romawi, laki-laki mempunyai hak untuk
menjual istrinya atau anak perempuannya. Dia juga berhak menyiksa mereka dengan
alasan tertentu. Bahkan membunuh mereka tanpa ada seorang pun yang
mempermasalahkannya. Sedangkan penghormatan masyarakat Mesir kuno terhadap para
wanita hanya terbatas pada mereka yang berasal dari kalangan keluarga kerajaan.
Sehingga terdapat beberapa tokoh wanita yang menduduki tahta kerajaan Mesir seperti
Nifirtiti, Hatsyibut, dan Cleopatra.
Selain
itu, dalam kepercayaan Hinduisme menganggap bahwa wanita hanyalah sebagai
pengikut laki-laki dan bayang-bayangnya. Oleh karena itu, apabila seorang suami
meninggal maka istrinya akan berbaring di samping jenazah suami. Dia akan ikut
dibakar hidup-hidup bersama jenazah itu dan dibakar dalam suatu upacara besar.
Ibnu Batuthah, seorang pengembara Arab, telah menyebutkan suatu upacara yang ia
lihat dengan mata kepalanya sendiri. Di dalam upacara itu ada tiga orang istri
yang dibakar hidup-hidup setelah suaminya meninggal dalam peperangan antar
suku.
Hal
yang juga tak jauh beda, bahwa di kalangan Yahudi, perempuan dianggap selalu
dalam kutukan dewa, selalu berdosa sejak lahir dan harus dihukum, serta
perempuan hanyalah dianggap sebagai hiasan rumah. Di samping itu, perempuan
hanyalah sebagai budak. Jadi, orangtuanya berhak menjual kepada siapa saja, dan
kehadirannya merupakan laknat bagi alam semesta. Bahkan di bangsa Arab (Pra-Islam)
yang notabene merupakan negara tempat tumbuh suburnya agama Islam, juga sempat
“terhiasi” dengan praktek buruk dalam memperlakukan wanita. Menganggap wanita
sama seperti barang. Maka muncullah istilah budak. Sehingga tidak jarang wanita
dijadikan selir oleh raja-raja demi memenuhi nafsu bejat mereka. Fakta berbicara,
bahwa wanita memang selalu menjadi kasta terendah di masa jahiliyah maupun
barat sekarang. Mereka hanya dijadikan bahan eksploitasi masyarakat barat yang
memiliki budaya Laissez faire. Inilah
potret buram kaum wanita, sejak dulu hingga sekarang.
Sejarah Terulang…
Memperbincangkan
perempuan memang tiada habisnya. Dari dulu hingga sekarang perempuan selalu
menjadi pembahasan yang sangat penting. Terlebih ketika muncul gerakan fiminisme
modern yang mempersoalkan peran wanita yang dianggap marjinal dan subordinasi
dari kaum laki-laki. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Islam mendiskreditkan
perempuan, Islam tidak memberikan ruang gerak pada perempuan. Benarkah
demikian? Padahal jika kita berpijak pada wacana keilmuan yang benar, maka kita
akan menemukan kebenaran bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki
peran besar dalam pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan, mulai dari
penyamaan pahala antara laki-laki dan perempuan, terhapusnya sistem perbudakan,
dan lain sebagainya. Artinya, pendapat di atas adalah salah dan tidak
berpedoman pada disiplin ilmu yang benar.
Di
lain pihak, Luthfi Asy-Syaukani, penerus tongkat estafet perjuangan Islam
liberal (baca: JIL), mengemukakan bahwa di antara masterplan (Rencana
besar) Jaringan Islam Liberal salah satunya adalah emansipasi wanita. Yang
secara bahasa dapat kita pahami sebagai persamaan hak di semua lini kehidupan,
seperti menyamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Gerakan emansipasi wanita
ini jika kita telusuri secara detail justru tidak mempunyai paradigma yang
jelas dalam memecahkan persoalan terkait dengan wanita. Yang ada justru akan
lebih memperburuk keadaan dan menyisakan segudang persoalan yang tiada
ujungnya.
Dalam
hal ini, jika kita lihat gerakan emansipasi wanita justru memiliki “tali ukhuwah”
yang erat dengan tren pluralisme agama, yang ujungnya tiada memiliki
standarisasi yang pasti dalam menilai persoalan terkait wanita. Standar yang
dipakai hanyalah bersifat relativisme kebenaran. Maknanya, kebenaran
hanyalah bersifat relatif, semu, dan tidak mutlak. Tolak ukur kebenaran justru
diukur berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan kosong dari pancaran nilai
ilahiyah. Sebenarnya, pemikiran tersebut sangat klasik. Kita bisa menemuinya
pada paruh kedua abad ke-5 SM, yaitu pada pemikiran Protagoras, seorang pemuka
kaum Shopist yang menyatakan bahwa, “Manusia adalah satu-satunya
standar bagi segala sesuatu”.
Ending dari perjuangan emasipasi wanita
ini pada dasarnya adalah memindahkan wanita dari keterpurukan satu menuju
keterpurukan yang lain, misalnya pada tahun-tahun terakhir dalam dunia “Entertain”
kita dikenalkan oleh sebuah kontes yang bernama Miss Univers atau Miss
World. Kontes ini sejatinya hanya mengulang sejarah kezhaliman terhadap
para wanita. Kontes ini mirip dengan apa yang biasa diperagakan para wanita
pada masyarakat Politheisme maupun Kristen Romawi yang ditampilkan dalam
acara Fakuaro, yaitu panggung untuk kontes wanita telanjang. Terbukti,
hari ini sejarah kembali terulang!
Posisi Wanita Setelah Turunnya Al-Qur’an
Setelah
turunnya Al-Qur’an, derajat wanita mulai naik dan mendapat perhatian dalam
Islam. Kemuliaan dan kehormatan yang dulunya terpuruk akibat penindasan moral
dinasti jahiliyah, perlahan mulai mendapat tempat di hati kaum Muslimin.
Sesungguhnya pengaruh Al-Qur’anul karim tidak tebatas pada penyadaran wanita
Arab akan hak-haknya, namun ia juga mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap
wanita Eropa.
Di
antara buktinya adalah Spanyol. Salah satu negara di daratan Eropa yang
mendapat sentuhan cahaya Islam. Pengaruh ini telah menjadi tema penelitian yang
dilakukan oleh para penulis Orientalis semisal Kurtsuviski yang menulis buku
tentang Spanyol yang bejudul “Spanyol Dalam Kekuasaan Muslim”. Dalam
buku ini ia menulis mengenai tingginya posisi wanita Spanyol setelah masyarakatnya
dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Arab yang diambil dari kitab suci Al-Qur’anul
karim.
Demikian
pula Orientalis Prancis, Brunfasal, telah menuliskan buku lain yang secara
khusus membahas tema ini berjudul “Peradaban
Arab di Spanyol (La Civilisation Arabe en
Espagne)”. Buku ini banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, terlebih
ayat-ayat tentang hak-hak wanita dalam warisan, batasan-batasan yang ditetapkan
Islam terhadap laki-laki dalam menceraikan isterinya, dan bagaimana Islam
mempersamakan pahala antara laki-laki dan wanita jika keduanya berbuat
kebajikan. Subhanallah. Inilah di antara fakta yang menunjukkan bahwa
Islam merupakan satu-satunya agama yang telah membebaskan kaum wanita dari
segala bentuk diskriminasi. Oleh karena itu, saatnya kita mengangkat kehormatan
dan kemuliaan wanita agar tidak terulang lagi penindasan di balik tirai
kezhaliman. ~ Sayyaf ~
Referensi
1. Al-Mahami, Muhammad Kamil Hasan. 2001.
Wanita di Mata Dunia dan Al-Qur’an. Jakarta : Mustaqim.
2. Witri Asriningsih, “Pengantar”, dalam Yusuf al-Qardhawi,
Perempuan
dalam Perspektif Islam, terj. Ghazali Mukri, Cet. Ke-2 (Yogyakarta : Pustaka Fahima, 2006),
3. Nurjannah Ismail, Perempuan
dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran (Yogyakarta :
LKiS, 2003),
4. K.
Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta :
Kanisius.
5.
http://kesejukan.blogspot.com/2006/11/hakikat-sebenarnya-wanita.html

0 Komentar