212 mengukir kisah yang akan terekam sepanjang sejarah. Tentang umat yang ingin menyuarakan kebenaran. Berkumpul dalam satu barisan yang rapi, dari berbagai suku dan daerah yang ada. Semua terikat pada satu misi, yakni meninggikan kalimat tauhid di negeri tercinta. 

Kami ingin kabarkan tentang cinta dan ukhuwah yang membalut iman. Rasa yang memenuhi ruang di hati untuk menyahut panggilan jiwa menuju ibukota tercinta. Jauhnya jarak tak menyurutkan tekad kami, kaki semakin yakin untuk melangkah pasti.



Iman di hati justru semakin berkobar, membakar semangat kaum pribumi. Untuk Islam yang selalu di hati. Monas, simbol kota Jakarta menjadi saksi sejarah bahwa 212 adalah gerakan umat untuk berkumpul menguatkan tali ukhuwah yang selama ini sempat terkotak. 

Jutaan manusia tumpah ruah, tak terbendung memadati Monas dan sekitarnya. Ini membuktikan bahwa panggilan ini menembus hingga relung di hati. Tak terhitung berapa biaya yang sudah dirogoh dari kantong? Tentu itu bukan nilai yang kecil. 

212 meninggalkan kenangan manis dalam beretika, karena bukan keonaran yang menjadi tujuan kami, tapi kebersamaan dalam galeri perjuangan.